Kamis, 27 Desember 2012

Ukhti.... Apa Yang Menghalangi Mu Berjilbab ???

,
Ukhty Apa yang menghalangi mu
berjilbab ???

Mungkin aku harus kembali
mengingatkanmu tentang alasan
penting kenapa Allah Subhanahu wa
Ta’ala menurunkan perintah jilbab
kepada kita –kaum Hawa- dan bukan
kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk
menutupi perhiasan dan keindahan
dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh
sembarang orang. Ingatkah engkau
ketika engkau membeli pakaian di
pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya,
lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya,
engkau akan meminta kepada pemilik
toko untuk memberikanmu pakaian
serupa yang masih baru dalam segel.
Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru,
bersih dan belum tersentuh oleh tangan-
tangan orang lain. Jika demikian
sikapmu pada pakaian yang hendak
engkau beli, maka bagaimana sikapmu
pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia
tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah
demikian? Saudariku, izinkan aku
sedikit mengingatkanmu pada firman
Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,

“Katakanlah kepada wanita-wanita
beriman: ‘Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara
kemaluan mereka, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan
mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-
istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah
mereka menjulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenali, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab:
59)

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar
rumah, maka syaithan akan
menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat
Tirmidzi (no. 1173) )

Saudariku, berjilbab bukan hanya
sebuah identitas bagimu untuk
menunjukkan bahwa engkau adalah
seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah
suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah
Ta’ala , selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab
juga merupakan konsekuensi nyata dari
seorang wanita yang menyatakan bahwa
dia telah beriman kepada Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa
malu, dan kecemburuan. Dan semua itu
Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah
hatimu terketuk dengan kasih sayang
Rabb kita yang tiada duanya ini?

salam ukhuwah penuh cinta coz Allah

Siti Al-Muhajirin Khumaira

Menjaga Aib Suami

,
Menjaga Aib Suami

Manusia tidak ada yang sempurna.
Begitu juga dalam kehidupan seharian suami isteri, pastilah banyak kekurangan di sana sini.

Ketika seseorang telah menikah, maka isteri dan suami telah menjadi satu bahagian. Mereka bagaikan pakaian untuk satu sama lain. Dan fungsi utama pakaian adalah menutup aurat. Ertinya, masing- masing suami isteri harus berusaha menutup aib pasangannya, dan pantang mengungkapkannya kepada orang lain, walaupun keluarga sendiri.

Namun selalu kita jumpa realiti menyedihkan di luar sana. Banyak kaum wanita ibu-ibu membicarakan aib cacat atau cela yg ada pada suami mereka tanpa perasaan malu ataupun bersalah.

Pernahkah kita berfikir sejenak, mengingatkan pesanan Rasulullah SAW, mengenai hal ini,

“Dari Abu Sa’id al-Kudriy, IA berkata, Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di Hari kiamat adalah seorang lelaki (suami)
yang bercampur (bersetubuh) dengan isterinya, kemudian menceritakan rahsia (isteri)-nya tersebut.” (HR. Muslim)

Manusia penuh dengan kekhilafan, begitu juga suami. Sebaik baiknya beliau, pastilah mempunyai kekurangan, aib, cacat dan cela. Tetapi adalah lebih baik jika kita menyimpan semua itu, dan menyibukkan diri ini untuk memeriksa dan mengira dan memperbaiki aib kita sendiri. Insyaallah hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari serta menceritakan kekurangannya. Tambahan pula orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain unutk dibicarakan atau diceritakan di hadapan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas dengan membongkar aib walaupun ia berada di dalam rumahnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda:
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-
istri kalian di dalam surga?” Mereka
menjawab: “Tentu saja wahai
Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa
sallam menjawab: “Wanita yang penyayang
lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah
kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di
atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir.
Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Istri yang menginginkan hidup penuh dengan
kebahagiaan bersama suaminya adalah istri
yang tidak mudah marah. Dan niscaya dia
pun akan meredam kemarahan dirinya dan
kemarahan suaminya dengan cinta dan kasih
sayang demi menggapai kebahagiaan surga.

Sumber dari beberapa blog termasuk blog saya pribadi

Kamis, 13 Desember 2012

Cup kematian sebagai pengingat

,


# Cukuplah Kematian sebagai Pengingat #

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang. Nilai- nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan.

Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya
di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana
kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai
waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang
kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian
mendekat.

Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi
berpaling (daripadanya) .”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia,
dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan,

“Ya
Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar
ketinggalan.”

Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,
kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam
surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada
manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka
berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam
waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan
mengikuti rasul-rasul ….”

** Kematian mengingatkan bahwa kita bukan
siapa- siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan
dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun
dan siapa pun peran yang telah di mainkan,

ketika sutradara
mengatakan ‘habis’ , usai sudah
permainan. Semua kembali kepada peran yang
sebenarnya.

 Lalu, masih kurang patutkah
kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan
tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal,
sandiwara sudah berakhir.

Sebagus- bagusnya peran yang kita mainkan,
tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat
peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai
orang miskin yang menderita.

Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk
selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada
sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci- laci peran. Teramat naif kalau
ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang
kaya dan berkuasa selamanya.

Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang
merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan
berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian. **

Segores Pena Hati

,
Ku sebut namaNya dengan pelan dan
lirih….mencoba merasakan kehadiranNya…
Rabbi…
ya Rahman…
…ya Rahim…
..ya Ghoffur…
Kenapa…
ya Rabb…
baru saat ini bisa
kurasakan cintaMu…
kenapa baru kusadar
bahwa cintaMu itu nyata…
Banyak cinta lain yang datang mengetuk
pintu hatiku…
dan semuanya begitu mudah
kuterima sebagai tamu terindah…
tapi
ketukan cintaMu tak kuindahkan..
bahkan ku
usir…
Kini…ketika cinta-cinta itu pergi dan
meninggalkan luka, justru cintaMu yang
pertama menghampiri dan menenangkanku..

Rabbi…. Indahnya caraMu mencintaiku… Indahnya caraMu memikat hatiku… Bodohnya aku ketika cinta-cinta lain itu bisa
membuatku terjerat…padahal cinta mereka
adalah nafsu..
Rabbi..
cintaMu tersemai dalam ayat…
RinduMu terhempas dalam tiap seruan
adzan…
Adakah cinta yang lebih indah dari cintaMu??

Rabbi.. Berikan aku kesempatan…menikmati cintaMu
Kan ku ayun langkah ini menju cintaMu yang
tertinggi…
Kan ku kunci ruang hatiku untuk cinta yang
lain…
sebelum cinta lain itu meminta izin
dariMu..
Rabbi… Akhirnya air mata ini mengalir untukMu…
Berlinang karena rindu yang teramat sangat
padaMu…
Akhirnya sujudku tak bisa ku cegah untuk
cepat beranjak… Sujudku menghempaskan keegoisanku
selama ini…
Akhirnya nafsuku kalah…karena sentuhan
cintaMu yang begitu membuat diri ini
bergetar hebat…

Nasehat Ali Bin Abi Thalib

,
~ Ketika Cinta Tak Berujung Bahagia ~

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-
Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri- istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berpikir.(Qs.Ar-rum:21)

Subhanallah ....
Bergetar hati ini tatkala mengeja setiap larikan ayat tsb ...

Ya Rabb ....
Ya Ghafar ..
Ya Muhaimin ...
Ya Aziz ...
Engkaulah yang maha membolak balikan hati setiap hamba-Mu
Atas kehendak-Mu kami bertemu dan saling mengenal ...
sesaat waktu berlalu begitu indah ...
Dan Kini ya Rabb ... Aku merasakan Fitrah suci itu
Ku jaga cinta itu dalam diam ku
Ku cintai dia atas nama-Mu ...
Namun ...
Ternyata dia bukanlah lelaki pilihan-Mu ..

Saat hubungan di terpa prahara ...
Saat hati nya mulai berpaling ...
Saat cinta nya mulai memudar ...
kumerasakan justru cinta-Mu begitu utuh dan dekat Ya Rabb ...
Saat duka harus ku hanyutkan di antara samudra hati ku
Saat luka itu harus sirami dengan tetesan air mata ...
Justru Engkau mengajarkan ku arti sebuah kedewasaan
bahwa duka itu harus ku ceritakan pada-Mu lewat sebuah ketabahan
Bahwa tangisan itu harus ku ceritakan Pada-Mu melalui sebuah senyuman ..
Bahwa kesakitan itu harus ku ceritakan pada-Mu lewat sebuah Keikhlasan saat melepaskan nya pergi
 

Khumaira Perindu Surga-Mu Copyright © 2011 | Template design by ilmuini | Powered by Blogger